Senin, 29 Juli 2013

JURNAL STROKE ISKEMIK

Drug Related Problems Pada Pasien Rawat Inap Stroke Iskemik
Diruangan Perawatan Neurologi RSSN Bukittinggi
 Oleh : Jerry, M.Farm, Apt 
(Dibawah bimbingan Prof.Dr.Almahdy.A,Apt dan Khairil Armal,S.Si,Sp.FRS,Apt)


ABSTRAK 
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui adanya  Drug Related Problems pada pasien rawat inap stroke iskemik di ruang perawatan neurologi RSSN Bukittinggi. Penelitian ini merupakan penelitian  cross-sectional dengan rancangan deskriptif yang bersifat prospektif.
Hasil penelitian menunjukkan dari 33 orang pasien didapatkan bahwa pasien stroke iskemik mendapatkan obat sesuai dengan penyakit yang dideritanya, kejadian indikasi tanpa obat sebesar 18%, ketidaktepatan pemilihan obat sebesar 9%, terjadi kelebihan dan kekurangan dosis obat sebesar 11%, interaksi obat yang merugikan sebesar 42%, reaksi efek samping pemakaian obat sebesar 24%, dan kegagalan
memperoleh obat sebesar 52%.
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa  prevalensi  Drug Related Problems pada pasien stroke iskemik di RSSN Bukittinggi secara keseluruhan relatif rendah.

I.  PENDAHULUAN
a. Latar Belakang 
Makin bertambahnya jenis obat yang beredar dan terbatasnya pengetahuan tenaga kesehatan tentang profil suatu obat menyebabkan meningkatnya  Drug Related Problems (DRPs). (Trisna, 2004).
Stroke termasuk penyakit  serebrovaskuler  (pembuluh darah otak) yang ditandai dengan kematian jaringan otak  (infark serebral) yang terjadi karena berkurangnya aliran darah dan oksigen ke otak. (Lionel, 2008).
Stroke iskemik bertanggung jawab atas 80 % dari sekitar 700 ribu kasus stroke yang terjadi di Amerika serikat setiap tahunnya dan 150 ribu diantaranya menyebabkan kematian. (Papalia, 2007).
Di Indonesia angka kejadian stroke meningkat dengan tajam, bahkan  saat ini Indonesia merupakan Negara dengan jumlah penderita stroke terbesar di Asia dan keempat didunia, setelah India, Cina, dan Amerika.(Feigin, 2006).

b.  Tujuan Penelitian
Mengidentifikasi  Drug Related Problems  yang terjadi pada pasien stroke iskemik di ruang perawatan neurologi RSSN Bukittinggi.

II.  METODOLOGI PENELITIAN
a.  Jenis Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan analisis deskriptif yang dikerjakan secara prospektif terhadap suatu populasi terbatas.

b.  Jenis Data
Meliputi masalah-masalah  penggunaan obat  yang ditemukan dalam terapi stroke iskemik, serta  persentase pasien yang menjalani terapi  stroke iskemik,persentase jenis obat  yang digunakan, persentase jumlah pasien berdasarkan rentang umur pasien, jenis kelamin, diagnosa penyakit dan beratnya penyakit.
c.  Sumber Data
Sumber data meliputi rekam medik pasien yang menjalani terapi obat  stroke iskemik  serta wawancara pasien atau keluarga pasien di  ruang perawatan neurologi RSSN Bukittinggi.
d.  Prosedur Penelitian
1.  Penetapan Obat yang Akan Dievaluasi
Obat yang akan dievaluasi adalah  semua  obat-obat yang digunakan selama menjalani terapi stroke iskemik.

2.  Penetapan Sampel yang Akan Dievaluasi
  • Kriteria inklusi :
    Data inklusi sampel yang dipilih adalah pasien yang menjalani terapistroke iskemik di ruang perawatan Neurologi di RSSN Bukittinggi  selama bulan Maret sampai Mei 2011.
  • Kriteria eksklusi :
    Pasien yang menjalani terapi stroke non iskemik (stroke haemoragik).
3.  Pengambilan Data
Pengambilan data dilakukan pencatatan rekam medik di  ruang perawatan Neurologi di RSSN Bukittinggi, meliputi data kualitatif dan kuantitatif serta kelengkapan data pasien. Data yang diambil dipindahkan ke lembaran pengumpul data. Kekurangan rekam medik dilengkapi dengan melihat catatan perawat, catatan obat depo farmasi  neurologi,  melihat kondisi pasien langsung dengan mengikuti visite dokter, wawancara pasien atau keluarga pasien.

4.  Penetapan Standar Penggunaan Obat
Standar  penggunaan obat ditetapkan berdasarkan standar terapi  di RSSN Bukittinggi,  formularium yang berlaku dan literatur-literatur ilmiah lainnya.
5.  Analisis Data 
  • Membuat persentase pasien yang mengalami DRPs.
  • Menganalisa hubungan kondisi pasien dengan kejadian DRPs.
  • Analisis data menggunakan metoda chi-kuadrat.

III.  HASIL DAN PEMBAHASAN
a.  Hasil
1.  Persentase Pasien Stroke Iskemik.
Berdasarkan data yang diperoleh,  dari 33 orang pasien diketahui pasien pria  sebanyak 51,5%  sedangkan asien wanita  sebanyak 48,5%.  Dimana usia rata-rata pasien stroke iskemik adalah 61 tahun dengan lama perawatan rata-rata 10,5 hari. Sedangkan jumlah resep rata-rata yang diterima pasien adalah 10 resep.
2.  Persentase Pasien Stroke Iskemik Berdasarkan Faktor Resiko.
Berdasarkan data yang didapat, diketahui persentase pasien  stroke iskemik  dengan faktor resiko hipertensi sebanyak 60%, dislipidemia 17%, merokok 17%, obesitas 4%, dan diabetes melitus 2%.
3.  Persentase Pasien Stroke Iskemik Berdasarkan Pemakaian Obat.
Berdasarkan data yang diperoleh, bahwa obat neuroprotektif adalah obat yang  paling sering digunakan pada terapi stroke iskemik yaitu digunakan pada 33 pasien (seluruh pasien yang dirawat di ruang perawatan neurologi RSSN Bukittinggi), multivitamin digunakan pada 31 pasien, anti trombotik dan antasida masing - masing digunakan pada 29 pasien, obat analgetik/antipiretik (25 pasien), antihipertensi (23 pasien), anti hiperkolesterol (17 pasien), anti depresi (9 pasien), anti bakteri (8 pasien), anti ansietas (5 pasien), antidiabetes (2 pasien).

4.  Persentase Pasien Stroke Iskemik Berdasarkan Diagnosa Penyakit.
Berdasarkan data yang diperoleh, diagnosa penyakit yang paling banyak adalah stroke iskemik tanpa penyakit penyerta yaitu sebesar 39,4%, stroke iskemik dengan hipertensi dan penyakit penyerta lain sebesar 36,4%, Sedangkan diagnosa stroke iskemik  dengan hipertensi sebesar 12,1% dan stroke iskemik dengan penyakit penyerta lain (selain hipertensi) sebesar 12,1%.

5.  Data Frekuensi Penggunaan Obat Stroke Iskemik.
Berdasarkan data yang diperoleh, penggunaan obat stroke iskemik yang paling banyak adalah penggunaan obat neuroprotektif yaitu sebesar 100%, dan penggunaan antitrombotik sebesar 88%, sedangkan obat trombolitik sebesar 0%.

6.  Data DRP yang terjadi pada Pasien Stroke Iskemik.
Berdasarkan data yang diperoleh bahwa  drug related problems  yang banyak terjadi adalah kegagalan memperoleh obat sebesar 52%,  terjadinya interaksi obat sebesar 42%, terjadinya efek samping obat sebesar 24%,  indikasi tanpa obat sebesar 18%,  dosis yang berlebih sebesar 12%, ketidak tepatan pemilihan obat sebesar  9%,  dosis  kurang sebesar  9%,  dan  obat tanpa indikasi sebesar 0 %.
b.   Pembahasan
1.  Jenis Obat Yang Digunakan Pada Terapi Stroke Iskemik
Persentase  jenis  obat  stroke iskemik yang  paling banyak digunakan adalah neuroprotektif yaitu sebesar 100%, sedangkan  antitrombotik sebesar 88%. Ini berarti semua pasien stroke iskemik mendapatkan obat neuroprotektor dan sebagian besar dikombinasi dengan obat antitrombotik. Pemberian terapi kombinasi antara obat antitrombotik ataupun trombolitik dengan obat yang bersifat  neuroprotektif telah terbukti lebih efektif dibandingkan dengan monoterapi. Dimana obat-obat golongan neuroprotektif ini bersifat melindungi otak yang sedang mengalami iskemi, sedangkan obat -obat antitrombotik dan trombolitik berguna untuk mengembalikan aliran darah ke otak. (Junaidi, 2004).
Pada penelitian ini tidak ditemukan pasien yang menggunakan obat trombolitik, ini mungkin dikarenakan tidak semua pasien stroke iskemik yang dapat diobati dengan pemberian obat trombolitik.
Ada beberapa ketentuan yang harus diperhatikan dalam pemberian obat trombolitik, diantaranya terapi trombolitik tidak boleh diberikan apabila pasien tidak di unit perawatan intensif atau di pelayanan stroke yang mapan, perhatian khusus sebelum pemberian obat trombolitik ditujukan pada  pasien dengan stroke berat (misalnya hemiplegi total dengan koma), selain itu harus diperhatikan juga tekanan darah dari pasien. (Gofir, 2009).

2.  Jumlah Pasien Stroke Iskemik Berdasarkan Jenis Kelamin
Pasien  stroke iskemik  yang paling banyak mendapatkan  terapi adalah laki-laki  yaitu  51,5%, sedangkan perempuan  48,5%.  Hal ini dapat terjadi mungkin dikarenakan pengaruh hormon pada laki -  laki dan perempuan. Pada laki-laki terdapat hormon testosteron, dimana hormon ini dapat meningkatkan kadar LDL (Low Density Lipoprotein), apabila kadar LDL tinggi maka dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam darah yang merupakan faktor resiko terjadinya penyakit degeneratif seperti stroke. (Bull, 2007).

3.  Jumlah Pasien Stroke Iskemik Berdasarkan Rentang Umur

Berdasarkan rentang umur, persentase tertinggi pasien yang mendapat terapi pada pasien stroke iskemik banyak dialami oleh umur 61-70 tahun yaitu sebesar 36,4%, sedangkan umur 51-60 tahun sebesar 24,2%,  umur    ≥71  tahun sebesar  18,2%,  umur  41-50  tahun  sebesar 12,1%  dan  umur  31-40 tahun sebesar 9,1%.
Usia lanjut merupakan suatu periode dari  rentang kehidupan yang ditandai  dengan perubahan atau penurunan fungsi tubuh (Papalia, 2007). Santrock (2002)  mengemukakan bahwa usia lanjut membawa penurunan fisik yang lebih besar  dibandingkan periode-periode usia sebelumnya, semakin tua usia seseorang,  kemungkinan akan memiliki beberapa penyakit atau dalam keadaan sakit meningkat. (Santrock, 2002).

4.  Jumlah Pasien Stroke Iskemik Berdasarkan Diagnosa Penyakit
Pasien didiagnosa  stroke iskemik  tanpa penyakit penyerta sebesar 39,4%, pasien didiagnosa stroke iskemik dan hipertensi sebesar 12,1%, pasien didiagnosa  stroke iskemik dengan hipertensi  dan penyakit  penyerta lain sebesar 36,4%, dan pasien didiagnosa stroke iskemik dengan penyakit penyerta lain sebesar 12,1%.
Hal ini  dapat  timbul akibat perubahan gaya hidup terutama di kota besar yang menyebabkan peningkatan prevalensi penyakit degeneratif.  Faktor lain adalah pengaruh stres yang berkepanjangan yang diderita masyarakat (Bull, 2007).

5.  Penggunaan Obat Tanpa Indikasi Medis
Pasien  stroke iskemik  di RSSN Bukittinggi  mendapatkan obat sesuai dengan penyakit yang dideritanya. Pada penelitian ini tidak ditemukannya penggunaan obat tanpa indikasi medis dikarenakan setiap penyakit maupun keluhan dari pasien selalu diberikan obat.
6.  Indikasi Tanpa Obat
Pasien stroke iskemik mendapat indikasi tanpa obat sebesar 18%. Pada penelitian ini terdapat 6 orang pasien yang mengalami indikasi tanpa obat, terdiri dari 3 orang pasien  dengan indikasi terinfeksi,  yang ditandai dengan suhu tubuh diatas 370C dan jumlah leukosit diatas 10000/mcL, tetapi tidak mendapatkan antibiotik.
Pada penelitian juga ditemukan 2 orang pasien yang mengalami hiperurisemia (Asam urat >6 ) tetapi tidak mendapat terapi antihiperurisemia.
Selain itu terdapat juga 1 orang pasien yang mengalami batuk sebelum masuk rumah sakit hingga saat perawatan yang cukup menganggu kondisi pasien tetapi tidak mendapat terapi.
7.  Ketidaktepatan Pemilihan Obat
Ketidaktepatan pemilihan obat pada pasien stroke iskemik sebesar 9%, Pada penelitian ditemukan ada 3 pasien yang mendapatkan terapi yang tidak tepat, misalnya pada pasien  yang  menerima kombinasi 3 macam obat antihipertensi dengan mekanisme kerja yang berbeda, yaitu Ramixal®,Amdixal®, dan Valsartan®. Menurut literatur, untuk penyakit stroke obat pilihan pertama adalah golongan ACE-Inhibitor (Dipiro, 2006). Tetapi obat ini kurang bermanfaat untuk pasien geriatri, dan sebaiknya untuk pasien geriatri diberikan obat golongan penyekat kanal kalsium seperti amlodipin (Katzung, 2004). Pada pasien yang lain juga hampir sama yaitu mendapatkan obat kaptopril tablet, dimana untuk pasien geriatri kaptopril ini kurang bermanfaat dan sebaiknya diganti dengan obat golongan penyekat kanal kalsium seperti amlodipin. Penggunaan obat golongan ACE-Inhibitor pada pasien geriatri dikhawatirkan akan terjadi hipotensi akut, karena hipotensi akut dapat terjadi pada terapi ACE-Inhibitor terutama pada penderita hipovolemik dan kekurangan natrium, orang lanjut usia, dan penggunaan bersamaan dengan obat diuretik. (ISFI, 2008).
Pada penelitian ini juga ditemukan 1 orang pasien yang mendapatkan OBH syrup yang diindikasikan untuk pasien batuk berdahak, sedangkan pasien tidak mengalami batuk berdahak tetapi batuk kering yang kemungkinan terjadi akibat efek samping pemakaian obat captopril.
8.  Dosis Obat kurang dan Dosis Obat berlebih
Pasien  stroke iskemik  yang menerima obat  dengan dosis berlebih sebesar 12%, sedangkan pasien  stroke iskemik  menerima obat dengan dosis kurang sebesar  9%.  Adanya ketidaktepatan dosis ini dapat menimbulkan efek samping yang tidak diharapkan pada pasien.
Pada penelitian ini terdapat 3 orang pasien yang mengalami kekurangan dosis. Misalnya pada pasien no.2 yang mendapatkan terapi captopril 2x25mg, sedangkan tekanan  darah pasien 170/120 mmHg, berdasarkan literatur untuk pasien hipertensi sedang sampai berat dosis pemakaian captopril adalah 3x25mg. (BNF, 2008 dan DEPKES, 2008).
Selain itu terdapat juga pasien no.17 yang mendapatkan terapi captopril 2x12,5mg sedangkan tekanan darah pasien 150/90 mmHg. Berdasarkan literatur untuk pasien hipertensi ringan dosis pemakaian captopril adalah 2x25mg.  (BNF, 2008 dan Martindale, 2007).  Dosis yang kurang akan menyebabkan tidak tercapainya dosis terapi yang berakibat keadaan pasien tidak membaik.
Dalam penelitian ini ditemukan 4 orang pasien usia lanjut  yang mendapat terapi alprazolam dengan dosis berlebih. Dari literatur untuk pasien usia lanjut disarankan dosis alprazolam 0,25 mg 2-3 kali sehari (Martindale, 2007), sementara pasien mendapat alprazolam dengan dosis 0,5 mg 1 kali sehari. Dengan pemberian dosis 0,25 mg lebih aman jika dibandingkan dengan pemberian 0,5 mg. Jika dengan dosis kecil sudah dapat mencapai MEC (Minimum Efective Concentration) dari alprazolam, dan juga jauh  dari MTC (Minimum Toxic Concentration) adalah lebih baik jika diberikan dosis terendah yaitu 0,25 mg. Hal ini terkait dengan dengan teori farmakokinetik dasar, dimana dengan dosis yang lebih besar maka akan menyebabkan konsentrasi plasma yang lebih besar pula dan lebih besar kemungkinan tercapai dosis toksik. (Shargel, 1985).
Selain itu didapatkan 1 orang pasien yang mendapatkan terapi ceftriaxon selama 20 hari. Berdasarkan literatur, lama pemakaian ceftriaxon adalah 14 hari (BNF-56, 2008). Pemakaian antibiotik yang terlalu lama dapat menyebabkan gangguan bahkan dapat menimbulkan penyakit lain pada pasien, seperti terjadinya reaksi alergi, super infeksi, dan reaksi toksik. (Setiabudi, 1995).
9.  Tejadinya Reaksi Efek Samping Obat
Persentase terjadinya reaksi efek samping obat pada pasien  stroke iskemik  sebesar 24%.  Efek samping tidak mungkin dihindari atau dihilangkan sama sekali, tetapi dapat ditekan atau dicegah seminimal mungkin dengan menghindari faktor-faktor risiko yang sebagian besar dapat diketahui. Dampak negatif masalah efek samping obat dalam klinik antara lain dapat menimbulkan keluhan atau penyakit baru karena obat, meningkatkan biaya pengobatan, mengurangi kepatuhan berobat serta meningkatkan potensi kegagalan pengobatan.
Efek samping yang paling banyak ditemukan adalah  gangguan pencernaan, misalnya pada  pasien  no.1, 12, 14, dan 26 yang  mengalami efek samping dari obat antihipertensi (seperti captopril dan amlodipin) dan penggunaan ceftriaxon berupa konstipasi  akibat dari relaksasi otot polos saluran cerna dan kandung kemih (BNF-56, 2008). Terdapat juga pasien no.2, 27, dan 29 yang menderita diare yang merupakan efek samping dari pemakaian simvastatin, sitikolin dan ciprofloxacin.
Selain itu terdapat juga pasien yang mengalami batuk, seperti pada pasien no.15, yang mengalami batuk akibat efek samping pemakaian captopril. Batuk merupakan salah satu penyulit pada pemberian ACE Inhibitor yang paling sering ditemukan sejak lama. (Opie, 2001; Walkers, 2003).
10.  Terjadinya Interaksi Obat
Persentase terjadinya interaksi obat pada pasien stroke iskemik sebesar 42%.  Pada penelitian ini interaksi yang sering ditemukan adalah kombinasi antara captopril dengan obat golongan NSAID yang dapat menurunkan efek antihipertensi dari captopril, dan menyebabkan gangguan fungsi ginjal. (BNF, 2008).
ACE Inhibitor (captopril) dengan Asetosal dosis kecil (aspilet) merupakan interaksi yang diharapkan atau memberikan efek sinergis. Pasien hipertensi mengalami vasokonstriksi dan terdapat trombus sistem arteri dengan pemberian captopril dan aspilet akan menimbulkan efek vasodilatasi dan menghambat pembentukan trombus. (Gunawan, 2007).
Asetosal dosis besar dengan captopril akan memberikan interaksi yang tidak diharapkan karena menyebabkan  efek vasodilator dari ACE  Inhibitor menurun (Tatro,  2001), Akibatnya efek vasodilatasi dari ACE Inhibitor tidak terjadi dan tekanan darah tidak turun. Disamping itu, asetosal  dapat melawan efek hipotensif (Anonim, 2000).
Hal ini disebabkan karena golongan AINS menghambat sintesa prostaglandin (untuk pengaturan aliran darah diginjal dan transpor natrium dan air), jika dihambat maka terjadi retensi natrium dan air sehingga terjadi penumpukan cairan didalam jaringan (udema) akibatnya terjadi peningkatan tekanan darah dan vasokonstriksi. (Gunawan:2007).
Selain itu terdapat juga interaksi antara asetosal dengan NSAID (seperti meloxicam, voltaren, dan asam mefenamat).  Pemakaian bersamaan antara asetosal dengan obat-obat NSAID dapat meningkatkan efek samping dari asetosal berupa pendarahan gastrointestinal. (Stockley, 2008).
Pada penelitian ini juga didapatkan interaksi antara amdixal, ramixal dan valsartan yang dapat meningkatkan efek hipotensi.  (Harkness, 1989: Stockley,2008). Terdapat juga 1 pasien (pasien no.15) yang mendapatkan
terapi  captopril dan aspar-K, dimana obat ini dapat menyebabkan hiperkalemia pada pasien bila dipakai bersamaan. (DEPKES, 2008).
11.  Kegagalan Memperoleh Obat
Persentase tejadinya kegagalan  memperoleh  obat pada pasien  stroke iskemik  sebesar  52%.  Kegagalan memperoleh  obat disini adalah apabila seorang pasien selama dirawat pernah 1 kali saja tidak mendapatkan obat maka diasumsikan bahwa pasien tersebut dimasukkan dalam ketegori gagal memperoleh obat.
Pada umumnya pasien yang dirawat diruang perawatan neurologi adalah  pasien yang masuk ruang kelas III dan hampir sebagian pasien merupakan pasien ASKES/JAMKESMAS, dimana untuk pasien peserta ASKES/JAMKESMAS sudah ada formularium tersendiri, yaitu formularium khusus untuk peserta ASKES/JAMKESMAS. Tetapi selama pasien dirawat terkadang pasien mendapatkan obat yang diresepkan diluar formularium tersebut, sehingga untuk memperoleh obat pasien memerlukan biaya untuk membeli obat. Pada kenyataannya tidak semua pasien yang memiliki kemampuan finansial untuk membeli obat tersebut,  sehingga sering terjadi pada saat jam minum obat tetapi pasien tidak minum obat.
Selain itu untuk pasien yang dirawat terkadang mendapatkan resep obat diluar standar formularium rumah sakit, sehingga pada saat pasien ingin membeli atau pun pada saat akan  minum obat, ternyata obat tersebut tidak tersedia di rumah sakit. Ini mungkin dikarenakan faktor perkembangan obat yang beredar di Indonesia, sehingga standar formularium dirumah sakit perlu di update secara kontiniu.
c.  Analisa Statistik
Dalam analisa  statistik pada penelitian ini  adalah menggunakan metoda chi-kuadrat, dimana dalam metoda ini yang di amati adalah hubungan antara jenis kelamin dengan DRPs, hubungan antara usia dengan DRPs, hubungan antara lama rawat dengan DRPs, hubungan antara faktor resiko dengan DRPs, hubungan antara jumlah resep dengan DRPs, hubungan antara DRPs dengan Outcome. Hubungan tersebut dikatakan bermakna jika angka signifikan nya dibawah 0,05.
1.  Hubungan Antara Jenis Kelamin Dengan DRPs
Pada penelitian ini didapatkan bahwa pasien pria lebih sering mengalami DRPs dibandingkan dengan wanita, yaitu pasien pria mengalami 31 kejadian DRPs sedangkan wanita 24 kejadian DRPs.
Setelah dianalisa menggunakan metoda chi-kuadrat ternyata hubungan antara jenis kelamin dengan DRPs tidak bermakna (angka signifikan 0,283), ini berarti jenis kelamin tidak mempengaruhi terjadinya DRPs.
2.  Hubungan antara usia dengan DRPs
Pada penelitian ini didapatkan bahwa pada usia 61-70 tahun mengalami kejadian DRPs yang paling banyak yaitu 16 kali, kemudian usia ≥71 tahun mengalami 14 kejadian DRPs, usia 51-60 tahun  (12 kali), usia 31-40 tahun  (7 kali), dan usia 41-50 tahun (6 kali mengalami DRPs). Hal ini dapat terjadi karena pada pasien lanjut usia kemungkinan terjadinya penurunan fungsi organ sehingga pada saat pemberian obat, dosis nya harus disesuaikan. Selain itu faktor kepatuhan minum obat, dimana untuk pasien lanjut usia terkadang lupa untuk minum obat.
Setelah dianalisa menggunakan metoda chi-kuadrat ternyata hubungan antara usia dengan DRPs tidak bermakna (angka signifikan 0,443), ini berarti usia tidak mempengaruhi terjadinya DRPs.
3.  Hubungan antara lama rawat dengan DRPs
Pada penelitian ini didapatkan bahwa pasien yang dirawat selama 8-14 hari lebih sering mengalami DRPs yaitu 24 kali, sedangkan lama rawat 0-7 hari dan 15-21 hari masing-masing mengalami DRPs sebanyak 13 kali, dan lama rawat ≥22 hari mengalami DRPs sebanyak 5 kali.
Setelah dianalisa menggunakan metoda chi-kuadrat ternyata hubungan antara lama rawat dengan DRPs sangat bermakna (angka signifikan 0,000), ini berarti lama rawat mempengaruhi terjadinya DRPs. Semakin lama pasien dirawat kemungkinan terjadinya DRPs semakin besar.
4.  Hubungan antara faktor resiko dengan DRPs
Pada penelitian ini didapatkan bahwa hipertensi merupakan faktor resiko terbanyak mengalami DRPs, yaitu 49 kali, sedangkan dislipidemia (17 kali), merokok (13 kali), obesitas dan DM masing-masing 1 kali.
Setelah dianalisa menggunakan metoda chi-kuadrat ternyata hubungan antara faktor resiko dengan DRPs tidak bermakna (angka signifikan 0,42), ini berarti faktor resiko tidak mempengaruhi terjadinya DRPs.
5.  Hubungan antara jumlah resep dengan DRPs
Pada penelitian ini didapatkan bahwa DRPs banyak terjadi pada pasien yang menerima 6-10 resep selama dirawat yaitu mengalami 25 DRPs, sedangkan untuk jumlah resep 11-15 mengalami 19 DRPs, 16-20 resep dan ≥21 resep masing-masing mengalami 5 DRPs, dan pasien yang menerima 0-5 resep mengalami 1 DRPs.
Setelah dianalisa menggunakan metoda chi-kuadrat ternyata hubungan antara jumlah resep dengan DRPs tidak bermakna (angka signifikan 0,059), ini berarti jumlah resep tidak mempengaruhi terjadinya DRPs.
6.  Hubungan antara DRPs dengan outcome
Pada penelitian ini didapatkan bahwa pasien yang memiliki outcome perbaikan mengalami lebih banyak kejadian DRPs dibandingkan dengan pasien dengan outcome sembuh. Outcome perbaikan mengalami 42 kejadian DRPs dan outcome sembuh mengalami 6 kejadian DRPs, sedangkan untuk pasien dengan outcome meninggal tidak ditemukan pada penelitian kali ini.
Setelah dianalisa  menggunakan metoda chi-kuadrat ternyata hubungan antara DRPs dengan outcome tidak bermakna (angka signifikan 0,927), ini berarti kejadian DRPs tidak mempengaruhi outcome dari pasien.

IV.  KESIMPULAN DAN SARAN
a.  Kesimpulan
1.  Kesimpulan Umum
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan  bahwa  Prevalensi  Drug related Problems  pada pasien  stroke iskemik di RSSN Bukittinggi  secara keseluruhan relatif rendah.
2.  Kesimpulan Khusus
Hasil penelitian menunjukkan dari 33 orang pasien didapatkan bahwa pasien  stroke iskemik mendapatkan obat sesuai dengan penyakit yang dideritanya, kejadian indikasi tanpa obat sebesar 18%, ketidaktepatan pemilihan obat sebesar 9%, terjadi kelebihan dan kekurangan dosis obat sebesar 11%, interaksi obat yang merugikan sebesar 42%, reaksi efek samping pemakaian obat sebesar 24%, dan kegagalan memperoleh obat sebesar 52%.
b.  Saran
1.  Petugas medis agar  mempertimbangkan pemilihan obat yang sesuai dengan keadaan pasien.
2.  Farmasis hendaknya menjalankan farmasi klinik secara optimal.
3.  Petugas medis agar melakukan  pencatatan yang jelas dan lengkap pada rekam medik.


DAFTAR PUSTAKA
Ali, M. 2009.  Stroke outcome in clinical trial patients deriving from different countries, stroke,
         40 : 35-40.
Anonim. 2000.  Informatorium Obat Nasional Indonesia.,  Departemen Kesehatan RI., Jakarta.
Anonim. 2011. Pusat Rekam Medik RSSN Bukittinggi.
Aslam, M., Tan. CK., Prayitno. A., 2007.  Farmasi Klinis : Menuju Pengobatan Rasional dan
         Penghargaan Pilihan Pasien.
,  Penerbit PT Elex Media Kompusindo Kelompok Gramedia. Jakarta.
Biomedika, Volume 1, No 2. 2009. FK UMS Solo.
British National Formulary Ed 56 th. 2008. London.
Bull, Eleanor. 2007. Simple Guide : Kolesterol. Penerbit Erlangga Jakarta.
Cipolle, R.J., Strand, L.M., Moorley P.C. 1998.  Pharmaceutical Care Practice, McGraw-Hill.
Clark, W. 1998. Citicoline Treatment for Experimental Intracerebral Hemorrhage in Mice. American
         Stroke Association. 1524-4628.
Depatemen Kesehatan. 2008. Pelayanan Informasi Obat,  Jakarta
Dipiro, Joseph. 2006.  Pharmacotherapy Handbook sixth edition,  Mc Graw Hill Company.
Dipiro, J.T., Robert, L.T., Gary, C.Y., R.M., Barbara, G.W., Michael Posey. 2008. Pharmacotherapy ; A
         pathophysiology approach,
Seventh Edition, Mc Graw Hill Companies.
Feigin, Valery. 2006. Stroke. PT. Bhuana Ilmu Popular, Jakarta.
George, J.H. 1997.  Biophysical Mechanism of Stroke.  Stroke A Journal of Circulation/ Vol 28. No.9.
Ginsberg, Lionel. 2008.  Lecture Notes : Neurologi,  edisi kedelapan. Penerbit : Erlangga, Jakarta.
Gunawan., Sulistia, G. 2007.  Farmakologi dan Terapi.  edisi  V.  Departemen Farmakologi dan
         Terapeutik UI., Jakarta.
Gofir, Abdul. 2009. Manajemen Stroke. Pustaka Cendekia Press. Yogyakarta.
Harkness, Richard. 1989. Interaksi Obat. Penerbit ITB Bandung.
Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia. 2008.  ISO  Farmakoterapi, PT ISFI Penerbitan Jakarta.
Junaidi, I. 2004.  Panduan praktis pencegahan dan pengobatan stroke.  Jakarta: PT. Bhuana Ilmu
          Populers.
Katzung, G.B. 2001.  Farmakologi Dasar dan Klinik  1. Penerbit Salemba Medika, Jakarta.
Katzung, G.B. 2002.  Farmakologi Dasar dan Klinik 2. Penerbit Salemba Medika, Jakarta.
Katzung, G.B. 2004.  Farmakologi Dasar dan Klinik  3. Edisi 8. Penerbit Salemba Medika, Jakarta.
Mafandadi, Sharza., Rook Karen., dan Jason T. 2007. Positive and negative social exchange and
          disability in later life and investigation of trayek stories of Change
. Washington: The Journal of
          Gerontologi. www.proguest.umi.com. Tanggal akses 13 Juni 2011.
Martindale.  2007.  The Complete Drug Reference, 35th edition, The Pharmaceutical Press. United States.
Misbach,  J., Jannis,  J., Kiemas,  L.S.  1999.  Stroke: aspek diagnostik, patofisiologi, manajemen.
          Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Misbach, J. 2007.  Unit Stroke, Manajemen stroke secara komprehensif. Balai Penerbit FK-UI : Jakarta.
Morris, D.L.,  and Schroeder, E.B. 2000.  Stroke Epidemiologi. Foundation for Education and Research in
          Neurological Emergencies 1-10.
Mutschler, E. 1999. Dinamika Obat. Edisi kelima. Penerbit ITB Bandung.
National Center For Health Statistics, Center For Disease Control  and Prevention. 2008.
          http://wonder.cdc.go/mortsql.html
Opie,  L.H., Yusuf, S., Poole-wilson P.A. 2001.  Angiotensin Converting Enzym (ACE) Inhibitors,
          Angiotensin II Reseptor Blokers(ARBS) and Aldosteron Antagonis
., in lionel . H. opie, editors,
          Drugs for the heart. J Host Pharm,, 3., hal 107-153.
Priyanto. 2009.  Farmakoterapi dan Terminologi Medis,  lembaga Studi dan Konsultasi Farmakologi,
          Jawa Barat.
Papalia., Diane E., Sters., Harvey, L., Ruth Duskin dan Camp., Cameron, J. 2007. Adult development and
          aging (3rd ed).
  New York: Mc Graw Hill Companies, Inc.
Putra, T.R. 2009.  Hiperurisemia.  In : Sudoyo, AW., dkk, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 3 edisi V,
          Balai Penerbit FKUI, Jakarta.
Santrock, J.W. 2002.  Life span development: International edition (8 th ed). New York: Mc Graw Hilll.
Semplicini. 2008.  Intravenous thrombolysis in the emergency department for the treatment of acute
          ischaemic stroke. Emerg Med J.
25: 403-406.
Setiabudi, R dan Vincent, H.S. 1995.  Pengantar Antimikroba. Farmakologi Dan Terapi edisi 4. FK.UI.
          Jakarta.
Shargel, L and Andrew, B.C. 1985.  Applied Biopharmaceutics and Pharmacokinetics. Appleton
          Century-Coofts.
Siregar, Charles. 2004.  Farmasi Klinik Teori dan Penerapan., Penebit Buku Kedokteran EGC., Jakarta.
Sjahrir, H. 2003. Stroke iskemik, penerbit : Yandira Agung, Medan.
Stockley, I.H. 2008.  Drug Interaction, 8th edition, The Pharmaceutical Press, London, UK.
Sustrani, Lanny., Alam, Syamsir., & Hadibroto, Iwan. 2004.  Stroke. Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama.
Strand, LM., P.C.  Morley & R.J. Cipolle. 1990.  Drug-related Problems: Their structure and function.
          DICP Ann Pharmacother.
Sutrisno, Alfred. 2007.  Stroke? you must know before you get it.  Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Tatro, D.S. 2001. Drug Interaction Facts, Facts and Comparisons., A Wolter Kluwer Company., USA
Thomas, D. J. 1995. Stroke dan pencegahannya. Jakarta: Arcan.
Trisna, Yulia. 2004.  Idealisme farmasis klinik di rumah sakit. Pengantar Farmasi Klinik. Jakarta.
Walker, R. dan Edwards, C. 2003. Clinical Pharmacy and Therapeutics, 3rd Edition Churchill
           Livingstone, Philadelphia.

Sabtu, 13 Juli 2013

LAPORAN PENDAHULUAN DEMAM TYPHOID



BAB I

LAPORAN PENDAHULUAN

TYPHOID

I.         Konsep Medis
A.       Pengertian
Demam typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus. Penyakit ini termasuk  penyakit endemik di Indonesia, ada 2 sumber penularan-penularan dan typi yaitu pasien dengan typhoid dan yang lebih sering disenut Carie. Sumber penularannya dapat melalui makanan, air yang tercemar dan tinja. Penyakit ini umumnya berkembang di daerah tropis dan tidak tergantung musim serta tidak ada perbedaan jenis kelamin dalam insidensi.
B.       Etiologi
a.   Salmonella thyposa, basil gram negative yang bergerak dengan bulu getar, tidak bersepora mempunyai sekurang-kurangnya tiga macam antigen yaitu:
o    antigen O (somatic, terdiri darizat komplekliopolisakarida)
o    antigen H(flagella)
o    antigen V1 dan protein membrane hialin.
b.      Salmonella parathypi A
c.       salmonella parathypi B
d.      Salmonella parathypi C
e.       Faces dan Urin dari penderita thypus (Rahmad Juwono, 1996).
C.       Patofisiologi
Kuman Salmonella. typi masuk dalam tubuh manusia melalui makanan dan minuman yang tercemar. Sebagian kuman dimusnahkan oleh atom lambung sebagian lagi masuk kedalam usus halus dan mencapai jaringan limfoid plague peyeri diilium terminalis yang mengalami perforasi kuman Salmonella typi kemudian menembus kelamin pro pria, masuk kealiran limfe dan mencapai kelenjar lince masterial, yang juga mengalami hipertropy setelah melewati kelenjar-kelenjar limfe ini. Salmonella typi masuk kealiran darah melalui ductus thoracicus, bersarang di palgue peyeri, limpa, hati dan bagian-bagian lain sistem retikuleondotil. Endotoksin Salmonella typi berperan pada potogenesis demam typhoid, karena membantu terjadinya inflasi lokal pada jaringan tempat S typi berkembang. Demam disebabkan karena S typi danendotoksinnya merangsang sintesis dan pelepasan zat pirogen oleh leokosit pada jaringan yang meradang.
D.       Manifestasi Klinik
Gambaran klinik demam typhoid pada anak biasanya lebih ringan dari pada orang dewasa. Masa tuna 10 – 14 hari. Terinfeksi 4 hari, jika terjadi melalui makanan, sedangkan melalui minuman selama 30 hari, selama inkubasi mungkin ditemukan gejala prodnormal yaitu perasaan tidak enak badan, lesu, nyeri kepala, pusing, nafsu makan kurang, menyusul menistasi klinik yang mungkin ditemukan.
a)    Demam.
Pada kasus yang khas berlangsung 3 minggu, bersifat febris remile dan suhu tinggi sekali, selama minggu I suhu badan berangsur – angsur naik khususnya pada sore dan malam harii, dalam minggu ke II pasien berada dalam keadaan demam, minggu ke III suhu normal.
b)   Gangguan pada saluran pencernaan.
Pada mulut terdap[at bau tidak sedap, bibir kering dan pecah-pecah, lidah tertutup selaput kotor (Coeted tongue-togue) ujung dan tepinya kemerahan, jarang disertai termor,hati dan limfe membesar disertai nyeri pada perabaan dan biasanya terjadi kntifasi atai diare.
c)    Gangguan Kesadaran.
Umumnya kesadaran pasien menurun, walaupun tidak beberapa lama, yaitu apatis sampai sammolen.
E.       Komplikasi
Dapat dibagi dalam :
a)    Komplikasi intestinal
ü  perdarahan usus
ü  perforasi usus.
ü  Ileus pralatik.
b)   Komplikasi ekstra intestinal.
ü  komplikasi karbodiovaskuler : kegagalan sirkulasi perifer (renjatan septis) meokarditis trombosit.
ü  Komplikasi hepar  dan kandung empedu : hepatitis dan kolestitis.
ü  Komplikasi ginjal : glomerulonefritis, perinefritis.
F.        Pemeriksaan Dragnostik
Pemeriksaan Laboratorium :
o   Darah tepi terdapat gambaran leukopenis, limfosintosis bersifat relatif mungkir terdapat enemia dan trombositomenia ringan.
o  Pemeriksaan SGOT dan SGPT.
o  Biakan darah : biakan empedu untuk menemukan sallmonela typosa dan pemeriksaan widal untuk menentukan diagnostik penyakit eaksi widal tungga dengan titer antibody 1/160 atau titer antibody H 1/320.
o  Pemeriksaan urine rutin (makrokopis).
G.      Pengobatan
Obat-obatan yang sering digunakan yaitu :
a)    Klorafenicol
Merupakan obat pilihan utama, dosis 250 – 500 mg/kg BB/hari.
Lama pemberian ; 10 hari untuk demam typhoid ringan dan 14 hari untuk demam typhoid berat.
b)   Trafenical.
Sama dengan klorafenical, dengan komplikasi hematogolis
c)    Ampicilin dan amoxilin
Dosis 500 mg/Kg BB/hari.
d)   Corficosteroid.
Apabila keadaan toksiddan komplikasi berat (perdarahan dan perforasi), misalnya predmison 2 mg/Kg BB/hari.
Bila terjadi keadaan khusus :
a.         Makanan cairan persode (bila kesadaran menurun).
b.        IVFD bila terjadi dehidrasi beratt, keadaan tosik.
Untuk menanggulangi sirkulasi :
Ø  Renjatan                         : RL 20 –30 cc/kg BB/hari.
Ø  Renjatan berat                : RL distop sampai tekanan darah terukur dan nadi teraba, kemudian disesuaikan dengan keadaan penderita.
Menjamin infake cairan (dengan komplikasi perdarahan ).
Ø  cairan dex 5 % : RL (2:1).
Ø  Jumlah cairan disesuaikan dengan umur dan BB person.
Ø  Bila ada tanda asidosis : nabic 7 %, 3 meg kg Bolus.
c.         Untuk pemeriksaan obat berkesinambungan : cairan DEX 5 %
d.        Hipereksia diberikan kompres dingin.
e.         Konstipasi diberikan lavement gliserin.




BAB II

KONSEP KEPERAWATAN
A.      Pengkajian
Data Subjektif
Ø  Pola hidup sehari-hari
Kebeasan mengkomsumsi makanan yang tidak di olah dengan baik sumber air yang tidak sehat serta kebersihan perorangan yang buruk.
Ø  Riwayat penyakit sebelumnya.
Apakah klien pernah menderita penyakit yang sama sebelumnya
Ø  Riwayat Keluarga
Apakah di dalam keluarga ada yang pernah menderita penyakit yang sama.
Ø  Keluhan yang dirasakan klien dikaji lengkap dengan PQRST.
-       Peningkatan suhu tubuh yang berfluktuasi.
-       Tubuh lemah
-       Kurang nafsu makan
-       Perut kembung.
-       Konstipasi.
-       Nyeri abdomen.
Data Objektif
-       Peningkatan suhu tubuh
-       minggu 1 demam intermtten
-       minggu II demam remittem
-       minggu III Demam Kontinyu
Ø  Realisasi berdikari
Peningkatan satu derajat celcius suhu tubuh akan dsisertai dengan pembakaran denyut nadi namun pada sebagian dapat dijumpai justru denyut nadfi sebaliknya

Ø  Lidah kotor 
Tanda ini jelas mulai tampak minggu kedua berhubungan dengan infeksi sistemik dan indotoksin kuman
Ø  Hepatomegali dan splemegalin
Pembesaran hepar dan klien mengidentifikasikan res yang mulai terjadi pada minggu kedua
Ø  Tanda murphy positif
Menandakan infeksi kandung kemih
Ø  Peristaltik
Dijumpai penurunan peristaltik atau bahkan menghilang
Ø  Konstipasi atau diare
Konstipasi terrjadi pada minggu pertama dan selanjutnya dapat terjadi diare.
Ø  Distensi abdomen dan nyeri
Ø  Hematemesis dan melena
Dapat terjadi pendarahan ulkus ilium yang akan menyebabkan hemtensis dan melena, distensi abdomen hyperperistaltik .
Ø  Tanda –tanda gangguan sirkulasi akibat pendarahan.
-       Perubahan tanda tanda vital khususnya suhu tubuh dan tekanan darah.
-       Kulit pucat,
-       Penuruna kesadaran.
Ø  Tanda-tanda peritonitas
-       Suhu tubuh sangat tinggi
-       Distensi tubuh sangat tinggi
-       Kesadaran menurun
Ø  Pemeriksaan darah
-       Kadar HB, HT,
-       Leokosit dan Diff
-       Khas penurunan leokosit karena endotoksin kuman menekan Res dalam memproduksi leokosit.
Ø  Pemeriksaan Gaal dan Widal
Mengukur kadar atau liter antigen dan flaget yang lebih akurat adalah liter 0, peningkatan kadar liter inimenggambarkan virullisensi kuman-kuman gaal adalah biarkan cairan empedu hasil untuk yang diharapkan adalah gaal (+) atau (-).

B.       Diagnosa Keperawatan Interpensi dan Rasional
NDX I
Hypertermi behubungan dengan infeksi kuman salmonella
Tujuan : peningkatan suhu tubuh dapat terkontrol selama proses infeksi berlangsung
Intervensi :
1.         Upayakan penurunan suhu tubuh berbagai cara
ü  optimalkan proses konfeksi
ü  optimalkan proses evaporasi
ü  optimalkan proses konduksi
ü  optimalkan proses radiasi
Rasional : Dengan melakukan berbagai cara untuk menurunkan panas tubuh klien yang tinggi akan tingkat akan kembali normal.
2.         Klien Bedres total di tempat tidur
Rasional : Dengan bedres total mempercepat pemulihan kesehatan dan dapat mencegah timbulnya serangan yang dapat memperburuk keadaan klien.
3.         Pemberian obat-obatan. Sesuai dengan jadwal dan dosis pemberian obat lain serta pemberian sesuai program seperti vitamin B-com
Rasional : Pemberian obat sesuai dengan jadwal dan dosisnya mempercepat proses penyembuhan dan mencegah proses peningkatan suhu tubuh yang tinggi.

4.         Kolaborasi pemberian obat-obatan analgetik
Rasioanal : Pemberian analgetik dilakukan jika suhu tubuh turun, analgetik membantu memblok rasa nyeri.

NDX II
Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia gangguan digesti dan absorpsi nutrisi.
Tujuan : mempertahankan nutrisi yang optimal, berat badan dan kadar hemoglobin dalam batas normal.
Intervensi :
1.         Beri diit makanan TKTP
Rasional : Makanan TKTP diberikan kepada klien dengan typhoid dengan tujuan agar kebutuhan kalori dan protein relatif terhadap penyakit yang ada tetap terpenuhi.
2.         Upayakan peningkatan nafsu makan
Posisi kecil sesuai dengan kemampuan klien
Rasional : Mengurangi kebosanan klien terhadap makanan dan memberikan makanan dan kesempatan usus untuk mengabsorpsi makanan yang lebih banyak.

NDX III
Gangguan ADL berhubungan dengan kelemahan fisik penurunan kesadaran, bedres.
Tujuan : kebutuhan aktivitas sehari-hari terpenuhi ( kebersihan diri,mobilisasi, eliminasi ).
Intervensi :
1.         Memberikan semua aktivitas klien di tempat tidur.
@  memandikan klien di tempat tidur
@  suapin klien pada saat makan
@  BAB, BAK dibantu di tempat tidur.
Rasional : Kebutuhan klien terpenuhi dan klien merasa diperlukan serat program perawatan dan pengobatan berjalan lancar sehingga proses penyembuhan berjalan lancar.
2.         Kaji laporan respon setiap kali melakukan aktrivitas
Rasional : Untuk mengevaluasi keefektifan dan intervensi yang diberikan dan batasi aktivitas jika terjadi peningkatan suhu tubuh.

NDX IV
Gangguan pola eliminasi BAB, konstipasi, diare berhubungan dengan inflamasi usus.
Tujuan : Pola eliminasi BAB klien normal.
Intervensi :
1.         Diare
Intruksikan klien/keluarganya untuk mencatat warna, volume, frekuensi dan konsistensi dari faeses
Rasional  : Volume dari cairan diare , volume yang tinggi ( lebih dari 1  liter/hari) menggambarkan dari kolon.
2.         Konstipasi
3.         Hindari sarapan yang megandung asam lemak.
Rasional : Asam lemak memperlambat rangsangan reflek dan memperlambat pencernaan.

NDX V
Gangguan istirahat tidur berhubungan dengan peningkatan suhu tubuh
Tujuan : Dapat istirahat dan tidur dengan nyaman.
Intervensi :
1.       beri jadwal pengkajian dan intervensi untuk meningkatkan waktu tidur lebih lama seperti memeriksa TTV dan merubah posisi klien pada waktu yang sama.
Rasional : Gangguan tidur terjadi dengan gangguan psikologis dan fisologis.
2.         Memberikan lingkungan yang nyaman bagi klien untuk meningkatkan tidur atau istirahat.
Rasional : Hambatan kortikal pada formasi klien untuk meningkatkan respon otomatik oleh karenanya respon kardiovaskuler terhadap suara meningkat selama tidur.





DAFTAR PUSTAKA

Smeltzer, S.C., & Bare, B.G (2002), buku ajar keperawatan Medical-bedah Brunner
& suddarth, vol:3. Jakarta: EGC.
Prece, S.A., & Wilson, L.M. (2006). Patosiologi : konsep klinis proses-proses
            penyakit.
Vol.2. Jakarta: EGC
Susan Martin Tucker; Standar Perawatan Pasien; EGC; jakarta
Guyton & Hall (1997) “Buku Ajar Fisiologi Kedokteran”, Jakarta : EGC.
Whaley and Wong (1997), Pediatric Nursing; Clinical Manual, Mosby Year Book, Philadelpia.